About feelings that easily change

Siang itu, selepas sholat duhur, saya dan teman kantor duduk-duduk sejenak sambil mengobrol santai.

Tiba-tiba teman kantor saya yang super lugu itu bertanya, “Mbak, perasaan itu mudah berubah ta?”.

Tak biasanya teman saya yang lugu ini bertanya tentang perasaan.

“Emmm…Tentu saja… Yang awalnya benci sekali suatu saat bisa menjadi cinta. Pun sebaliknya, yang awalnya cinta sekali suata saat bisa jadi benci. Makanya kita dilarang suka atau benci kepada seseorang secara berlebihan. Yang sudah menikah saja masih bisa berubah, tapi mereka yang sudah menikah sudah punya komitmen, meskipun perasaan mereka bisa berubah tapi tetap terjaga.”

Saya jadi teringat dengan teman-teman SMA dan kuliah saya yang cinta lokasi. Dulu rasanya iri sekali melihat mereka. Serasi sekali, seperti memang sudah klop satu sama lain. Tapi namanya jodoh, tidak bisa ditebak.

Sebagian dari mereka banyak yang akhirnya menikah, bahkan sudah punya anak. Dan sebagian lagi, kandas, atau tiba-tiba menikah dengan wajah baru. Kok bisa? ya bisa, namanya jodoh.

Alasannya macam-macam. Kebanyakan karena tidak ada kepastian dari pasangan, “untuk apa menunggu seseorang yang bahkan tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk kita, kalau memang niat pasti ada saja usahanya biar ketemu jalannya”, begitu katanya.

Kemapananpun sering dijadikan seorang pria sebagai alasan untuk menunda meminang pasangan yang katanya diidamkan itu. Padahal bagi wanita kemapanan tidaklah menjadi point utama. Karena yang terpenting adalah bagaimana calon suami bisa dan mau bertanggungjawab terhadap nafkah keluarga nantinya. Menikah dengan pria mapan adalah bonus, menikah dengan pria bertanggungjawab adalah berkah.

Ada satu cerita unik dari salah satu dari teman saya yang akhirnya menikah dengan orang yang berbeda ini. Mereka berdua sudah berpasangan sejak awal kuliah sampai lulus, setelah lulus keduanya bekerja, dan menjalani hubungan jarak jauh. Tidak ada kabar kepastian dari si cowok meskipun si cowok itu sudah bekerja, dan malah asik dengan dunianya sendiri. Ketika dalam kondisi “ketidakpastian” itu si cewek bercerita (curhat) dengan teman lamanya semasa SMA (cowok) yang akhirnya sekarang menikahi si cewek.

Cerita ini kadang jadi trauma tersendiri untuk saya. Ketika saya dalam kondisi yang sama. Ada saja teman lama yang tiba-tiba muncul. Bertanya “sudah menikah?” “Belum” “Sama”. Dan berlanjut ke obrolan lainnya. Kalau hati lagi adem masih bisa santai dan mengelak atau sekedar membentengi hati dari obrolan yang menjurus, demi menjaga “perasaan yang bisa mudah berubah” itu. Tapi kalau hati lagi tidak tenang, rasanya mudah goyah, jurus andalan adalah non-aktif dari segala macam sosia media.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s