Happy Mommy to be

Hmmm.. Jadi emak emak memang kadang suka galau ya. Apalagi tipe mahmud abas(Mamah muda anak baru satu) seperti saya ini.

Dulu pas masih kerja, kekeh banget sama idealisme kalau nanti punya anak harus resign dari kantor dan fokus ngurus suami dan anak di rumah, kalaupun harus bekerja, kerjanya yang dirumah biar tetep bisa ngawasin anak. Ternyata suami juga menginginkan hal yang sama. Jadi tambah mantap buat melepas pekerjaan.

Awalnya(mungkin sampai sekarang) orang tua kecewa dengan keputusan itu. Wajar lah ya, orang tua dulu bisa dibilang kurang mampu, jatuh bangun biayaain kuliah biar kelak bisa mengangkat derajat mereka, lalu terpenuhi dengan saya lulus kuliah dan keterima di kantor pemerintahan dengan gaji yang Alhamdulillah.

Lalu dengan keputusan itu, artinya mereka harus jatuh bangun lagi dengan mengandalkan uang kiriman Kakak kakak yang tak menentu karena penghasilan yang juga pas-pasan.

Tapi apalah daya, suami kekeh minta saya resign dan segera menyusulnya ke pulau seberang(yang juga keputusan berat karena harus meninggalkan keluarga), maka bulatlah tekat saya.

Hari hari menikmati hidup sebagai ibu rumah tangga. Demi anak (yang waktu itu masih di perut), dan demi bakti kepada suami tercintahh yang sudah mendalil-dalil.

Tapi seiring waktu berjalan, semua berubah sejak negara api menyerang(*halahh apaan sih ๐Ÿ˜…) , idealisme mulai goyang.

Kebutuhan semakin meningkat.

Orang tua dan juga mertua mulai mendorong untuk kerja lagi.

Suami yang dulu punya idealisme sama(bahkan lebih) tetiba sering menawarkan untuk kerja juga.

Dari diri sendiri yang kadang kalap pengen shopping tapi ga mau sampai ngambil uang belanja dari suami. Tapi juga tetap pengen tampil modis di depan suami biar ga kalah sama teman teman kantornya.

Dan rasa iri dengan suami yang bisa bekerja, main main, bercanda dengan teman dikala senang ataupun suntuk bekerja, kegiatan ini itu bersama teman. Membuat teringat teman teman kantor di Jawa dulu.

Sedangkan saya sekarang. Jauh dari keluarga dan teman teman. Di rumah nungguin suami pulang kerja yang lebih sering over time (meskipun tau karena memang ada keperluan tetap saja rasanya kecewaaa banget), weekend-pun kadang masih ada keperluan diluar. Akhirnya berusaha menyibukkan diri dengan bisnis Online shop, tentu saja dengan izin suami. Selain untuk mengusir rasa bosan, hasilnya juga lumayan buat nambah koleksi baju, hehe. Tapi tetap saja, hanya ampuh beberapa waktu.

Kalau sudah begitu langsung baper dan mendadak mellow, kebayang bayang gimana pengorbanan ninggalin karir dan keluarga demi mematuhi keinginan suami.

Beruntung Allah kasih baby Array, yang jadi pembangkit semangat saya. Yang demi dialah beserta suami, segala pengorbanan itu tetap saya ambil. Demi melihatnya tumbuh dan berkembang dengan pengawasan saya, madrasatul ‘ula-nya(ciyeeee) . yaaa meskipun kadang bikin tambah baper. hehehe

Bukankah jadi apapun kita, yang penting kita bahagia dan menikmatinya?

I choose to be a happy mommy. ๐Ÿ˜Š

Advertisements

“cemburu” menguras hati

Rasa “cemburu” bisa datang dari mana saja, yang paling sering mungkin dari teman. Secara, bersama mereka-lah kita sering bertukar cerita tentang banyak hal. Ketika mereka bercerita tentang hal yang membahagiakan pastinya kita juga ikut bahagia, tapi dibalik itu kita juga terkadang menyimpan sedikit rasa cemburu atau iri karena mungkin kita sebenarnya menginginkan hal yang sama tapi belum bisa.

Dan seperti kebanyakan emak-emak pada umumnya, ketika saya dan teman-teman ngobrol bersama akan panjang dan lama, mulai dari ngomong pekerjaan sampai fashion, dan tidak ketinggalan pasti ada sebagian waktu yang sepertinya memang sudah diplot untuk ngomong tentang pasangan masing-masing, atau kadang pasangan orang lain *upss..ย Mungkin ini salah satu alasan kenapa ghibah itu dilarang sama Allah ya.. ๐Ÿ˜€ Continue reading